Jumat, 06 Februari 2015

► Bukti Keaslian Al-Qur'an [Metode Penghafalan dan Konsep Mutawatir]




___1001seputaragamaislam.blogspot.com___

Masyarakat di zaman Nabi Muhammad S.A.W. menyebarkan berita dengan lisan. Mereka saling mengirimkan informasi dari mulut ke mulut. Informasi yang mereka dapatkan juga diwariskan dari generasi ke generasi. Jadi dengan cara ini, informasi yang tersebar dapat diingat dalam pikiran mereka.

Mari kita baca firman Allah dalam surat Al Israa' ayat 106 yang berbunyi :  

"Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian." (Al Israa':106)

Jadi Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang dibagi menjadi beberapa bagian dan diwahyukan secara bertahap. Al-Qur'an diwahyukan secara bertahap karena dengan cara ini Al-Qur'an orang-orang semakin mengingat Al-Qur'an. Tuhan mewahyukan beberapa ayat Al-Qur'an pada waktu tertentu, yang dilatarbelakangi peristiwa tertentu, kemudian Rasulullah S.A.W. dan orang-orang menghafalkan ayat-ayat itu. Dan para sahabat yang pandai menulis diperintahkan Rasulullah untuk menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an dalam perkamen, pelepah kurma, kulit hewan, atau papirus karena Rasulullah buta huruf. Bahkan sangat sedikit orang Arab pada zaman itu yang mampu membaca & menulis.

Tapi kebanyakan orang menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka juga mengajarkan dan mempraktekkan ayat-ayat itu dalam kehidupan mereka. Jadi ini memiliki efek ganda: menghafal ayat-ayatnya dan mempraktekkannya. Inilah salah satu hikmah Al-Qur’an yang diturunkan secara bertahap. Ini berarti praktek agama Islam boleh dilakukan secara bertahap karena ini sesuai dengan sifat manusia, sangat sulit kita berubah secara spontan.

Dan Allah memudahkan bacaan Al-Qur'an agar orang-orang  dapat menghafalnya. Dan ini adalah fakta yang luar biasa : Al-Qur’an telah dihafal ratusan juta orang selama berabad-abad. Agar Al-Qur'an semakin melekat pada ingatan orang-orang, Nabi Muhammad dan imam-imam yang memimpin shalat di Madinah pada masa itu juga membaca Al-Qur’an dengan suara nyaring dalam shalat lima waktu.

Dan di bulan Ramadhan, Nabi Muhammad S.A.W. mengkhatamkan Al-Qur’an. Bahkan ini sudah menjadi tradisi umat Islam sampai sekarang, yaitu mengkhatamkan Al-Qur'an di bulan Ramadhan.

Nabi Muhammad S.A.W. juga menganjurkan umat Islam untuk menghafal Al-Qur’an. Ada suatu peristiwa ketika dua sahabat dekat Nabi Muhammad meninggal pada saat yang sama, dan Nabi Muhammad memberikan penguburan pertama dan posisi yang paling terhormat untuk orang yang paling hafal Al-Qur’an. Bahkan orang yang paling dianjurkan menjadi Imam adalah yang lebih hafal Al-Qur'an.

Rasulullah S.A.W. juga menganjurkan menghafalkan ayat-ayat atau surat tertentu. Misalnya sebelum hari Jumat, Nabi Muhammad sangat menganjurkan membaca surat Al-Kahfi. Nabi S.A.W. juga bersabda bahwa surat Yasin adalah jantung Al-Qur’an. Dia bersabda bahwa Surat Al Baqarah dan Ali Imran akan menjadi syafaat pada hari kiamat bagi orang-orang yang menghafalnya.

Jadi semua ini memberikan semangat bagi orang-orang sehingga mereka menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Dan perlahan-lahan, Al-Qur’an akhirnya menyatu dalam pikiran dan hati umat muslim.

Pada saat Nabi Muhammad S.A.W. meninggal, ada banyak hafiz (para penghafal Al-Qur'an). Para hafiz sangat dihormati dalam kalangan umat muslim. Dan metode penghafalan Al-Qur’an ini diturunkan dari generasi ke generasi hingga sekarang. Kita menyebutnya sebagai konsep Mutawatir

Apa artinya Mutawatir? Artinya ada begitu banyak orang yang telah menceritakan sebuah kisah di banyak tempat sehingga sangat tidak mungkin orang-orang yang terkumpul bersama ini melakukan kesalahan. Misalnya, ada seribu orang, dan masing-masing dari seribu orang tersebut mengajarkan seribu orang lagi, dan masing-masing seribu orang itu mengajarkan seratus orang lagi. Dapatkah anda bayangkan berapa ratus ribu orang yang telah diajarkan? Dan apakah mungkin orang-orang yang sangat banyak ini melakukan kesalahan? Tidak mungkin. Dan penyebaran Al-Qur'an melalui lisan bersifat mutawatir,  ada begitu banyak orang yang telah meriwayatkan, sehingga tidak mungkin mereka melakukan kesalahan. Setiap ayat dari Al-Qur'an hingga ke masa sekarang dihafalkan oleh ratusan juta orang melalui konsep mutawatir.

Begitu pula ketika seseorang ingin menjadi seorang hafiz Al-Qur’an, mereka harus diajarkan guru mereka dengan cara khusus. Mereka harus belajar ilmu Tajwid. Tajwid adalah ilmu yang membahas tentang huruf-huruf Al-Qur’an.  Dan untuk menguasai ilmu tajwid, mereka harus belajar pada seorang ulama. Dan umumnya, guru-guru yang memiliki keahlian dalam bidang Tajwid, mempunyai siswa yang belajar selama kira-kira tiga sampai enam tahun,  terkadang malah lebih dari itu. Murid tersebut baru boleh membaca Al-Qur'an di muka umum setelah dengan sangat teliti diperiksa oleh gurunya. Guru tersebut harus memastikan bahwa muridnya dapat membaca Al-Qur’an dengan tepat dan benar.  Ketika seorang siswa telah mencapai kemahiran, maka sang ulama akan memberi mereka tazkia, sebuah persetujuan tertulis yang berarti murid tersebut boleh membaca dan mengajarkan cara membaca Al-Qur’an. Jadi dengan adanya ilmu tajwid lebih memastikan bahwa tidak mungkin Al-Qur’an mengalami kerusakan.

Bahasa Arab juga merupakan bahasa yang hidup. Orang-orang masih berbicara dalam bahasa Arab di zaman modern ini. Jadi mereka dapat membaca Al-Qur'an dan memahami isinya. Ini juga sangat penting dalam membantu penghafalan Al-Qur’an. Bahkan di Masjid tempat saya bekerja, salah satu imam disana sudah hafal Al-Qur’an pada saat ia berusia tujuh tahun. Suatu hal yang sangat luar biasa!

Inilah salah satu mukjizat Al-Qur’an. Jadi Al-Qur’an terjaga keasliannya melalui penyebaran lisan & metode penghafalan Al-Qur’an. Bahkan para cendekiawan yang bukan Muslim pun telah mengakui tentang hal ini. Aku akan membacakan komentar dari beberapa orientalis (sarjana non-muslim) yang mempelajari Al-Qur'an. 

Saya akan membacakan komentar dari A.T. Welch: 


"Bagi umat Islam, Al-Qur’an bukanlah sekedar kitab atau tulisan suci yang biasa. Ini karena selama berabad-abad, Al-Qur'an disebarkan dalam bentuk lisan, yaitu sebuah bentuk yang pertama kali diucapkan oleh Muhammad kepada para pengikutnya selama periode sekitar dua puluh tahun, dan wahyu ini kemudian dihafal oleh beberapa pengikut Muhammad selama dia hidup. Dan tradisi lisan yang unik ini terus menerus dihafalkan sepanjang sejarah, dalam cara yang sangat baik melebihi cara menjaga keaslian Al-Qur’an dengan menuliskannya. Selama berabad-abad, penyebaran Al-Qur’an melalui lisan, secara keseluruhan telah dipertahankan oleh para pembaca profesional, yaitu para Qura’ah. Sampai sekarang, pentingnya cara membaca Al-Qur’an jarang dihargai dalam dunia Barat." (A.T. Welch)

Orientalis terkemuka yang bernama Kenith Crag, berkomentar: 

"Al-Qur'an mungkin satu-satunya kitab, termasuk (kitab) agama atau sekuler, yang keseluruhan isinya dihafal oleh jutaan orang. Fenomena penghafalan Al-Qur’an ini berarti ayat-ayat Al-Qur'an telah melintasi berabad-abad tahun dalam garis tak terputus sebagai bentuk pengabdian umat muslim. Karena itu, kitab ini tidak dapat diklasifikasikan sebagai dokumen antik atau dokumen sejarah masa lalu. Faktanya, Hifz (metode menghafal Al-Qur’an) menjadikan Al-Qur’an menjadi milik umat Muslim sepanjang zaman dan membuatnya menjadi sangat bernilai di setiap generasi umat muslim. Hal ini menjadikan Al-Qur'an bukanlah sesuatu yang asing atau milik  kalangan orang tertentu saja."  (Kenith Craig)


Ini adalah pernyataan yang sangat mendalam & penting, karena fakta ini semakin memperkuat bahwa Al-Qur’an bukan hanya sekedar tulisan biasa, Al’Quran adalah sesuatu yang hidup. Metode penghafalan yang berkesinambungan membuat Al-Qur’an begitu hidup di dalam hati, pikiran, & kehidupan sehari-hari umat muslim.

Bahkan seorang pendeta pun telah mengakui bahwa Al-Qur'an tidak mungkin rusak. Saya akan membacakan komentar seorang pendeta yang bernama Boswell Smith dalam bukunya yang berjudul "Muhammad and Muhammadenism."

"Kesimpulannya, kita memiliki sebuah kitab, yang benar-benar unik dalam asal-usulnya & metode cara menjaga keasliannya begitu kuat sehingga tidak seorang pun yang dapat meragukannya." (Boswell Smith)

Ada banyak orang yang berusaha untuk melemparkan fitnah dan tuduhan tentang keaslian Al-Qur'an. Namun belum ada yang mampu memberikan sanggahan yang kuat, karena metode penghafalan Al-Qur'an ini begitu baik, metode ini membuat Al-Qur'an tetap terjaga keasliannya.

Dan yang menambah bukti bahwa Al-Qur’an itu masih utuh tanpa ada kerusakan adalah sistem hifz. Ini merupakan sistem penghafalan Al-Qur’an yang sangat luar biasa. Bahkan saya sendiri pernah mengalaminya. Pada bulan Ramadhan, umat Islam berkumpul untuk shalat Tarawih. Biasanya kita dipimpin oleh seorang Imam yang telah hafal seluruh Al-Qur’an. Dan biasanya, juga ada sebagian makmum yang hafal ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang Imam baca atau mungkin mereka juga orang-orang yang hafal keseluruhan Al-Qur’an (Hafiz Qur'an). 

Dan, meskipun sangat jarang, namun imam terkadang membuat kesalahan. Ini memang sudah menjadi sifat manusia, karena manusia memang tidak sempurna, manusia terkadang membuat kesalahan dan lupa. Namun jika sang Imam berbuat kesalahan atau lupa, maka akan terdengar suara dari para makmum yang mengingatkan bacaan Imam tersebut. Jadi dengan ini, maka proses penghafalan lisan & penyebaran Al-Qur’an menjadi semakin kuat.

Dan Allah sendiri telah berfirman : 
Inna nahnu nazalna al thikr wa inna lahu wa hafidzun – “Sesungguhnya Kami telah mewahyukan pengingat (Al-Qur'an) & Kami akan menjaganya.”

Kesimpulannya adalah, Al-Qur'an adalah sebuah mukjizat yang hidup, Allah selalu aktif dalam menjaga firman-Nya dalam hati dan ingatan umat muslim. Apakah ada kitab lain di dunia yang seperti ini? Tentu hanya Al-Qur'an yang memiliki mukjizat seperti ini.

Sumber : http://lampuislam.blogspot.com/

 
;